Rabu, 11 September 2019

Falsafah Sains

Kumpulan bahan Falsafah Sains I

Bahan-bahan ini saya simpan di sini agar bisa menjadi informasi buat yang membutuhkan.  Apa itu falsafah sains.??  Berikut adalah bahan ajar tentang falsafah sains dari Prof. Djumali Mangunwidjaja.  
Hayuu simak di video slide di bawah ini.  
  

1. Falsafah Sains



 2. Fenomena Alam- Penelitian- Hipotesis- Hukum- Teori (lmiah)








Senin, 09 September 2019

Perhitungan Jarak dari Garis Lintang dan Bujur


Bumi itu bulat ya. jika melihat bumi maka ada namanya koordinat garis lintang dan garis bujur untuk memudahkan dalam penentuan lokasi di permukaan bumi. Sistem koordinat terdiri dari dua komponen yaitu:

  1. Garis lintang (latitude); Garis dari atas ke bawah atau vertikal yang menghubungkan kutub utara dengan kutub selatan.
  2. Garis bujur (longtitude); Garis mendatar atau horizontal yang sejajar dengan garis khatulistiwa.

Related image
http://asapeducate.weebly.com/

Untuk membagi wilayah bumi menjadi bagian utara dan selatan maka yang dibutuhkan adalah garis yang tepat  berada di tengah bumi yaitu garis khatulistiwa atau equator. Sedangkan untuk membagi wilayah timur dan barat ditentukan sebuah garis bujur PRIME MERIDIAN yang titik pangkalnya terletak di Greenwich (Inggris).

cara menentukan koordinat bujur-lintang adalah sama dengan perhitungan lingkaran yaitu: derajat (o), menit (') dan detik ("). 

Contohnya seperti ini:

4o 35’ 30”LS


cara membacanya adalah:
4 derajat 35 menit 30 detik Lintang Selatan


Berapakah jarak setiap garis tersebut?, 
Ketentuannya adalah:

1 derajat bujur/lintang = 111,322 km (diambil garis terpanjang yaitu equator)
1 derajat bujur/lintang = 60' (menit) = 3600" (detik)
1 menit bujur/lintang = 60" (detik)
1 menit bujur/lintang = 1.8885,37 meter
1 detik bujur/lintang = 30, 9227 meter


Contoh soal:
berapa jarak antara


2o 15’ 30” s.d 4o 40’ 20”

Jawab:
Selisih jarak antara kedua lintang tersebut adalah 2 derajat 25 menit dan 10 detik. Maka,


  • 2 derajat x 111,322 km   = 222,644 km
  • 25 menit x 1.885,37 m   = 47.134,25 m
  • 10 detik x 30,9227 m     = 309,227 m                           +
                                                 = 270,087477 km atau 270,088 km


seperti itulah cara menghitung jarak menggunakan pedoman garis lintang dan bujur.

Lalu bagaimana jika pekerjaannya atau perhitungannya membutuhkan satuan jarak dalam nautikal mile?...

Caranya adalah:
  • diketahui 1 km   = 0,54 nautical mile
  • maka: 270,088 x 0,54 = 145,85 nautical mile
Semoga bermanfaat.


Jumat, 15 Februari 2013

Suatu Hari di Tanjung Jabung Timur





 








Melintasi jalan yang rusak














Menghadiri undangan pun dapat menggunakan kapal














Salah satu pelabuhan di tepi sungai tempat pengisi bahan bakar kapal nelayan














Pemukiman nelayan di tepi sungai yang telah tertata














Nelayan menambatkan kapalnya














Pemukiman di tepi sungai














Burung pun ikut bergembira menyambut mentari














Patok BELAT (belah laut) yang dibuat nelayan














Kapal-kapal kecil yang sedang menambatkan kapal di muara sungai














Aktifitas kapal pengangkut batubara di muara sungai














Kapal angkut cepat penghubung daerah di pesisir Jambi














Nelayan pukat hela pesisir Tanjung Jabung Timur














Masyarakat sudah terbiasa hidup dan bermukim di muara sungai














Kapal pengeruk endapan mengurangi sedimentasi di muara sungai














Keutuhan NKRI adalah harga mati














Penduduk di muara sungai sudah terbiasa mengayuh dari rumah ke rumah














Bangkai kapal penangkap ikan diantara ecenggondok dan mangrove














Pemukiman di muara sungai air hitam














Salah satu sisi di muara sungai air hitam

Rabu, 09 Januari 2013

LPG ALTERNATIF PENGGANTI BBM…




Sebagaimana kita ketahui bahwa besar kecilnya kapal perikanan menentukan banyak sedikitnya Bahan Bakar Minyak (BBM) yang dikonsumsi.  Sekitar 70% biaya operasional penangkapan ikan dibelanjakan untuk BBM.  Bila harga BBM naik, maka biaya belanja BBM akan membengkak, yang berakibat pada pendapatan nelayan bahkan merugi dalam usaha penangkapan ikan yang dilakukannya.  Menurut BPH Migas, perkiraan kebutuhan BBM pada tahun 2012 untuk nelayan di Indonesia sebesar 1,8 juta kiloliter, untuk menyuplai sekitar 550 ribu unit, dimana 335 ribu di antaranya merupakan perahu/kapal bermotor skala kecil (5 GT atau kurang), baik motor diesel maupun motor bensin, yang sangat membutuhkan BBM bersubsidi, baik bensin-premium maupun minyak solar.   Pelaksanaan kebijakan energi nasional (Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2006, tentang Kebijakan Energi Nasional), di bidang perikanan tangkap diterjemahkan dalam bentuk penggunaan Bahan Bakar Gas (BBG) sebagai sumber energi substitusi BBM.
Dengan demikian, Balai Besar Pengembangan Penangkapan Ikan (BBPPI) melakukan uji coba Liquefied Petroleum Gas (LPG) pada kapal perikanan untuk mengetahui  persentase pengurangan  konsumsi BBM dan  efisiensi belanja bahan bakar setelah menggunakan LPG (bensin pada motor bensin  maupun solar pada motor diesel).  Ternyata dengan menggunakan LPG sebagai pengganti bahan bakar pada kapal perikanan dapat memberikan efisiensi sebanyak 2862 % pada motor bensin dan sekitar 25 % pada motor diesel.  Hal tersebut merupakan sebuah jawaban dalam rangka untuk meningkatkan produktifitas di bidang perikanan tangkap dengan tidak bergantung pada tingginya biaya operasional untuk membeli Bahan Bakar Minyak (BBM).  Untuk mewujudkannya sebagai bentuk partisipasi aktif pemerintah kepada masyarakat maka perlu dilakukan langkah-langkah membangun untuk penggunaan bahan bakar gas sebagai sumber energi pengganti bahan bakar minyak. 
 
Seiring dengan hal tersebut diatas, baru-baru ini Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia, Syarif C. Sutardjo yang didampingi oleh Direktur Jenderal Perikanan Tangkap dan Kepala Balai Besar Pengembangan Penangkapan Ikan melakukan kunjungan sekaligus menyerahkan bantuan delapan paket  sistem penggerak kapal penangkap ikan berbahan bakar LPG di kota Tegal dan Kabupaten Brebes.  Moment tersebut menjadi gong dimulainya pilot project penggunaan LPG pada kapal penangkap ikan yang didukung oleh Balai Besar Pengembangan Penangkapan Ikan di Semarang.
Pilot project penggunaan LPG pada kapal penangkap ikan menggunakan 9 paket sistem penggerak kapal penangkap ikan dan menggunakan kapal yang berukuran ≤ 5 GT.  Setiap paketnya terdiri dari mesin serba guna 6,5 PK (memiliki pereduksi putaran) yang dilengkapi as tipe long tile shaft dan baling-balingnya serta LPG Convertion Kit yang sesuai.
Untuk suksesnya program penggunaan bahan bakar LPG pada kapal perikanan sebagai pengganti bahan bakar minyak perlu diingat beberapa hal yaitu, pertimbangan terhadap kuota LPG untuk perahu atau kapal penangkap ikan, di luar kuota rumah tangga.  Selain itu, perlu adanya desparitas harga yang signifikan antara LPG dengan BBM subsidi.  
Sebuah harapan,. Mudah-muadahan dengan adanya program LPG sebagai alternatif bahan bakar motor penggerak kapal perikanan pengganti BBM nelayan semakiin majuuu…..