Manajemen sumberdaya perikanan muncul sebagai satu dari topik yang paling penting tentang masalah makanan di abad ke-21, penentuan daerah penangkapan ikan sekarang merupakan salah satu kunci utama untuk sebuah perencanaan dan pemanfaatan sumber daya perikanan yang efisien.
Produktifitas para nelayan Indonesia hingga saat ini masih tergolong rendah. Salah satu kendalanya adalah sistem penangkapan ikan yang masih bersifat konvensional. Seiring dengan biaya operasi penangkapan ikan yang semakin tinggi, waktu dan tenaga yang diperlukan untuk mencari daerah penangkapan, sehingga dibutuhkan terobosan baru untuk menentukan daerah penangkapan ikan secara real time.
Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap (DJPT) melalui Direktorat Kapal Perikanan dan Alat Penangkapan Ikan (KAPI), Kementerian Kelautan dan Perikanan, baru-baru ini melakukan kajian penerapan teknologi untuk pengembangan penangkapan ikan. Salah satunya adalah melakukan kajian teknologi penangkapan ikan melalui presentasi Sistem Panduan Penangkapan Ikan Berbasis Satelit. Balai Besar pengembangan Penangkapan Ikan (BBPPI) juga ikut serta dalam acara tersebut sebagai instansi teknis yang salah satu tugas dan fungsinya adalah melakukan kerekayasaan teknologi pengembangan penangkapan ikan yang diharapkan dapat melakukan terobosan baru untuk mendukung upaya tersebut.
Penjelasan sistem panduan penangkapan ikan menggunakan satelit ditekankan pada manfaat dan kegunaan sistem panduan penangkapan ikan berbasis satelit dalam mendukung sasaran strategis Kementerian kelautan dan Perikanan, sistem deteksi daerah penangkapan ikan menggunakan citra satelit, sistem pendistribusian informasi penangkapan ikan menggunakan satelit radio dan sarana yang dibutuhkan sistem panduan penangkapan ikan menggunakan satelit.
Sistem ini merupakan perpaduan teknologi antara rekayasa teknologi citra satelit dan rekayasa teknologi satelit radio yang diberi nama Sistem Informasi Berbasis Knowledge dan Expert System (SIKBES). Rekayasa teknologi citra satelit menggunakan jenis citra satelit tertentu untuk mendapatkan data Suhu Permukaan laut (SPL) dan Klorofil-a, rekayasa teknologi satelit radio menggunakan Very Small Aperture Terminal (VSAT) dimanfaatkan untuk membangun informasi dua arah antara nelayan dengan pelaksana sistem. Data dan informasi yang diperoleh dari rekayasa teknologi citra satelit dan satelit radio kemudian di analisis untuk penentuan daerah penangkapan ikan. Implementasi sistem panduan penangkapan ikan berbasis satelit di dukung oleh beberapa sarana pendukung utama yaitu Kapal Utama dan Stasiun Pantai yang digunakan untuk menyebarkan informasi kepada nelayan. Sistem Panduan Penangkapan Ikan berbasis satelit ini membutuhkan adanya umpan balik dari nelayan tentang lokasi daerah penangkapan ikan dengan menggunakan aplikasi BELFOS sebagai sistem pelaporan yang dikembangkan oleh BPPT.
Pengenalan sistem panduan penangkapan ikan merupakan langkah yang diambil untuk memperkenalkan sebuah kemajuan teknologi di bidang penangkapan ikan, namun perlu kiranya dipertimbangkan keikutsertaan nelayan dalam memberikan umpan balik tentang lokasi daerah penangkapan ikan yang tidak begitu maksimal sebagaimana diharapkan, sehingga dibutuhkan rekayasa teknologi untuk mendapatkan informasi langsung dari lapangan tanpa harus bergantung pada umpan balik dari nelayan. Dengan demikian, dibutuhkan integrasi data yang baik antara data citra satelit, data oseanografi dan data pendukung lainnya yang akurat dan reliable untuk penyusunan sistem panduan penangkapan ikan sehingga dapat menjadi bahan rujukan yang informatif untuk memudahkan nelayan mencari daerah penangkapan ikan yang potensial.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar